Mengembangkan Organisasi Pembelajar

Mengembangkan Organisasi Pembelajar

Mengembangkan Organisasi Pembelajar

(Tulisan ini juga diterbitkan di Majalah Berkat)

Seringkali kita dihadapkan pada kenyataan bahwa organisasi yang sedang kita pimpin ini mengalami stagnasi atau sepertinya tenang, stabil, namun, juga pasif dan pertumbuhan-nya mengalami pernurunan.

Sedangkan kondisi yang menuntut serba cepat, serba baru dan inovatif ini pada saat yang sama menghimpit kita untuk dapat mengembangkan sesuatu yang lebih baru, lebih efektif dan lebih efisien.

Dua kenyataan ini menjadi salah satu tantangan bagi pemimpin maupun pimpinan dalam banyak organisasi. Alhasil, hati ingin mengajak dan mendorong tim untuk keluar dari kepompong kenyamanannya, namun respon positif terlihat masih jauh, sebab kepompongnya masih menjadi tempat yang begitu nyaman dan tentram, tanpa menyadari waktu yang terus berlari dan perubahan demi perubahan diluar sana terjadi begitu cepatnya.

Membuat perubahan dalam organisasi juga membutuhkan waktu dengan cara yang tepat dan seni pendekatan yang cocok untuk organisasi kita.

Salah satu pendekatan yang diinspirasi dari Peter Senge ini dapat Anda gunakan untuk mengajak, mendorong, dan mengembangkan individu2 pembelajar dalam organisasi kita, sehingga harapannya organisasi pembelajar dapat tercipta dan ter-install dalam budaya organisasi kita.

Mengembangkan organisasi pembelajar juga berarti mengembangkan satu budaya peka akan proses pembelajaran bagi setiap individu yang terlibat. Ketika organisasi kita diisi oleh insan2 pembelajar, maka disanapun bertumbuh sebuah kebutuhan untuk maju dan belajar untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan yang sedang terjadi. Dengan demikian, organisasi menjadi lebih dinamis, terarah dan terus move forward.

Nah, pendekatan model apa yang dapat kita gunakan? Peter Senge menyebutnya dengan the 5th Discipline of Learning Organization (5 Disiplin Organisasi Pembelajar), yang terdiri dari 5 (lima) disiplin, yaitu:

  • Personal Mastery
  • Mental Model
  • Shared Vision
  • Team Learning
  • System Thinking

Kelima disiplin ini merupakan pendekatan menarik yang dapat kita install atau budayakan dalam organisasi atau perusahaan kita masing2. Ada banyak kemungkinan juga bahwa kita sebenarnya telah menerapkan 5 hal ini, hanya tidak kita sadari bahwa ini merupakan sebuah pendekatan dalam ilmu kepemimpinan dan management.

Personal Mastery

Saya teringat dengan film lucu Kungfu Panda yang ditokohkan oleh seekor Panda lucu dan suka sekali makan, namun memiliki kelincahan, terutama ketika mengejar makanan favorit-nya, bakpao. Sampai2 guru-nya melatihnya dengan menggunakan makanan tersebut untuk mengeluarkan kemampuan sang Panda.

Diceritakan bahwa Panda tersebut memiliki satu potensi luar biasa yang tertanam dalam dirinya, dan akan menjadi Panda yang menyelamatkan dunia saat kemampuan tersebut dapat dimunculkan.

Begitu pula-lah setiap kita yang disadari atau tidak, memiliki kemampuan, bakat, dan potensi sendiri-2, namun tidak semua orang mampu dan mau untuk mengeluarkannya, sebab untuk mewujud-nyatakan semua itu diperlukan kesadaran akan potensi itu, dan upaya serta keringat untuk memunculkannya.

Lantas, sampai kapan-kah mengembangkan diri ini? Sampai menjadi master dan expert, dan tak perlu kuatir, ketika kita sudah master dalam suatu bidang, pada saat yang sama kita juga masih pemula untuk bidang yang lain. Hal ini seharusnya menggugah kita untuk senantiasa menjadi mahkluk pembelajar dan terus belajar hal baru.

Oleh karena itu, kita perlu membiasakan diri kita untuk menentukan goal2 yang hendak kita capai secara rutin, visi misi perusahaan tentu sudah merupakan sebuah standar yang perlu dimiliki.

Goal ini berfungsi sebagai arah kemana kita hendak menuju, dan secara spesifik apa yang ingin kita kembangkan; yang kemudian secara otomatis kita memiliki 2 titik, yaitu titik kondisi sekarang (current reality), dan titik kondisi yang diinginkan (personal goals).

Kabar baiknya adalah dengan mencapai titik personal goal, maka didalam perjalanan biasanya ada pengembangan kapasitas baik disadari maupun tidak, sehingga ketika menghadapi hal yang serupa dilain waktu, kita menjadi lebih siap, lebih cepat, dan lebih mantap. Jika goal2 kita menuntut diri kita untuk meregang, seperti karet yang harus ditarik, disana juga terjadi perkembangan diri yang signifikan.

Sebagai pemimpin, kita perlu mengajak tiap2 individu dalam organisasi untuk selalu sadar dan fokus dengan goal2 yang hendak dicapainya. Sebuah perjalanan bersama yang menarik ini bisa menjadi pembelajaran dan pengalaman yang bisa dibagikan kepada tim lainnya.

Mental Model   

Setiap pemimpin memiliki tugas untuk mengeluarkan setiap potensi timnya dalam rangka mengembangkan organisasi yang lebih optimal, utamanya jika kita bisa menjadi sosok atau model dalam alam pikirannya sebagai panutan dan teladan.

Untuk itu, pemimpin organisasi melangkah lebih dahulu dalam menjadi contoh sebagai insan pembelajar serta mendemonstrasikan kebiasaan baiknya, sehingga menginspirasi insan lainnya dalam organisasi tersebut.

Dengan kata lain, merupakan tugas dan tanggungjawab pemimpin untuk dapat menjadi mental model bagi timnya dalam organisasi pembelajar; dan kemudian mendorong tiap2 insan untuk juga menjadi mental model baik lainnya utk juga menginspirasi rekan-2nya.

Hal utama yang juga perlu dilakukan dalam menerapkan mental model ini adalah melakukan refleksi diri rutin, yang tentunya dipandu oleh nilai2 & prinsip2 kebenaran Agung, untuk memberi kita bijaksana dalam mengerti apa yang telah kita lakukan benar atau salah, juga dalam mempertimbangkan segala hal untuk dapat melangkah dengan paradigma yang baik.

Shared Vision

Ibarat Anda diajak oleh seorang teman baik untuk menyelesaikan sebuah puzzle barunya, yang katanya keren & model 3D, tapi Anda tidak diberitahukan puzzle bentuk apa itu. Tentu kita semua mengalami kesulitan dan harus meraba2 dulu kira2 akan menjadi gambar dan bentuk apa itu, bahkan mungkin ada yang langsung menolaknya dengan sopan karena tidak tahu apa yang akan dibikin.

Untuk mengembangkan organisasi pembelajar, sharing visi adalah tugas penting bagi seorang pemimpin. Jika salesman menjual, pemimpin share visi.

Pemimpin bisa mendapatkan hati pengikutnya, dan memberikan arah dan tujuan yang sangat mendalam baginya melalui sharing visi. Ketika setiap individu dalam organisasi memiliki visi yang sama, tujuan yang sama, dan kemudian hati yang sama, maka semua kesulitan, semua tantangan, dapat dihadapi dengan kekuatan yang berbeda.

Visi yang tertanam dan menjadi Shared vision (Visi Bersama) seperti tali pengikat yang menyatukan kita dan mengarah kearah yang sama seperti sinar laser. Oleh karena itu, secara rutin, sharing-kanlah visi mulia Anda dengan berbagai pendekatan dan variasi cara!

Team Learning

Proses mengembangkan organisasi pembelajar berikutnya adalah disiplin untuk melakukan pembelajaran bersama (Team Learning). Satu kepala memiliki kekuatannya sendiri, lima kepala memiliki variasi berpikir dan sudut pandang berbeda2 yang memperkaya setiap individu yang terlibat. Apalagi ketika lima kepala itu menjadi satu kesatuan dan semangat yang sama untuk mengembangkan karya bersama dalam visi dan platform yang sama.

Sudahkah Anda menerapkan pembelajaran bersama diperusahaan Anda? Team learning dalam organisasi dapat dilakukan ketika memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi secara bersama2, atau merancang materi atau diskusi yang hendak kita latih bersama dalam organisasi.

Misalnya, bisa jadi kita merancang kegiatan sebelum meeting dengan sharing session secara bergantian atau dengan mempelajari aturan2 pemerintah yang berkaitan dengan bidang bisnis kita, dsb. Pada dasarnya, secara bersama2 kita dapat merancang suatu aktifitas utk belajar bersama sehingga organisasi kita juga terus berkembang karena individu2 didalamnya juga mengalami pertumbuhan.

System Thinking

Disiplin ini merupakan yang paling kompleks dibandingkan dengan disiplin lainnya. Dalam system thinking kita melatih insan pembelajar untuk meneyelsaikan suatu permasalahan sampai ke akar2nya.

Sering terjadi kita sepertinya telah menyelesaikan masalah, namun ternyata masalah yang mirip timbul lagi dan lagi, dimana ini merupakan salah satu indikasi bahwa permasalahan tidak diselesaikan sampai ke akar2nya, baru permukaan, sehingga muncul lagi dan lagi.

Menyelesaikan akar masalah dalam organisasi tidak jarang diperlukan kehadiran dari beberapa bagian/ divisi utk bersama2 mendiskusikannya dan mencari alternatif solusinya. Hal ini disebabkan karena ada masalah yang berkaitan dengan divisi2 lainnya, sehingga harus diselesaikan secara sistemik.

Pemimpin perlu membiasakan tim untuk dapat melihat kedalaman sebuah masalah dan keterkaitan sebuah masalah dengan hal2 lainnya, sehingga dapat memberikan obat yang tepat untuk masalah yang tepat.

Dalam menerapkan disiplin system thinking ini, disiplin yang lain  dibutuhkan, dan pada saat yang sama, disiplin yang lain juga diterapkan pada tahap ini. Misalnya, dalam menyelesaikan masalah dengan mengumpulkan beberapa bagian dari organisasi, juga terlaksana pula team learning ketika diskusi berlagsung.

Berbahagialah Anda yang mungkin sudah menerapkan kelima hal ini. Itu berarti Anda mungkin telah menikmati buahnya; dan bagi Anda yg baru akan memulainya, kiranya pimpinan-NYA boleh memunculkan insan pembelajar2 baru yang memberikan dampak baik dan ikut membesarkan organisasi Anda.

Semoga ke-5 disiplin Organisasi Pembelajar ini dapat kita terapkan kedalam organisasi atau institusi yang sedang kita pimpin hari ini, sehingga perusahaan Anda boleh mengalami pertumbuh-kembangan yang kemudian menghasilkan buah2 yang lebat dan ranum.

Terima kasih

Semangat Berjuang!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *