5 Q’s Leaders Must Have

(Tulisan ini juga diterbitkan di Majalah Berkat, Edisi Juni 2019)
Setiap pemimpin memiliki caranya sendiri dalam menjalankan kepemimpinannya, sesuai dengan gaya dan situasinya. Seringkali cara2 yang dilakukannya unik, menarik, dan menginspirasi untuk bisa diadaptasi dalam perusahaan lainnya.
Cara dan Langkah yang tepat, serta sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, menghasilkan keefektifitasan, sebaliknya, langkah yang kurang tepat, dan dinilai tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, malah akan menghambat laju organisasi.
Menjadi pemimpin itu merupakan priviledge, sekaligus tantangan; anugerah, sekaligus tanggungjawab; beban sekaligus kesempatan.
Priviledge karena memiliki kesempatan untuk menggerakkan timnya, organisasinya, dan pengikut2nya. Kepemimpinan itu juga merupakan anugerah, sebab melalui kepemimpinannya, kita memiliki kesempatan untuk menggenapkan panggilanNYA.
Oleh sebab itu, priviledge, anugerah dan kesempatan yang dimiliki oleh seorang pemimpin ini perlu senantiasa dibarengi dengan kesadaran akan tantangan, tanggungjawab yang besar, serta beban dalam menjalankannya, sehingga kesadaran ini membimbing seorang pemimpin untuk sadar akan Amanah yang diberikan kepadanya, oleh-NYA
Dalam kondisi itulah, menjadi seorang pemimpin itu membutuhkan fondasi dan bekal yang wajib dimiliki, sehingga kepemimpinannya akan berdaya & memberdayakan para pengikut & organisasinya, baik itu berdaya guna, maupun berdaya cipta, menghasilkan organisasi2 yang penuh berkat melalui karya2nya; selain itu, kepemimpinannya tetap berjalan dijalur nilai-2 kebenaran dan ajaran

Setiap organisasi dibentuk untuk memenuhi panggilannya, yaitu visi dan misinya, serta dilengkapi dengan nilai2 inti dalam mencapai tujuannya tersebut. Lalu, apa yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin dalam perjalanannya untuk mencapai tujuann organisasinya secara efektif? Apa sih yang membedakan antara Good Leaders & Bad Leaders?
Dibawah ini merupakan fondasi dan bekal yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin dalam kepemimpinannya. Ada pemimpin yang mencapai visi misinya dengan menggunakan segala macam cara; dan ada pula yang menggunakan kepemimpinannya dengan penuh Amanah, sehingga dicintai oleh tim-nya.
IQ (Intellectual Quotient)
Kemampuan intelektual merupakan hal penting juga didalam memimpin. Tentu ini tidak berarti orang2 yang memiliki nilai IQ tinggi akan menjadi pemimpin yang lebih baik dari yang IQ pas-pas-an.
Kecerdasan Intelektual ini mengemuka sebelum “Q” yang lainnya, dan ada juga yang menyebutnya sebagai kecerdasan Mental. Yang dibutuhkan dalam kemampuan IQ dalam memimpin adalah kemampuan kita untuk menganalisa, mengidentifikasi masalah, berpikir, dan melihat konsekuensi-2 dari suatu kejadian, maupun dari keputusannya, serta kemampuannya dalam memahami situasi kondisi, baik internal organisasi maupun eksternal, seperti situasi politik, social, ekonomi yang dapat mempengaruhi kemajuan organisasinya.
Melalui IQ ini, seorang pemimpin memiliki kemampuan dalam merancang, menentukan dan menganalisa strategi untuk mencapai tujuan organisasi.

Mengacu pada hal2 tersebut, langkah2 yang perlu dikerjakan oleh seorang pemimpin adalah memperkaya dirinya dengan informasi2 & data2, lalu belajar menganalisa apa relevansi-nya terhadap organisasi yang sedang dipimpinnya.
Hal ini juga dapat dilakukan dengan berdiskusi dengan sesama rekan, atau mentor, coach, partner, atau komunitas dimana seorang pemimpin berkecimpung, sehingga akan memperlengkapi dan mempertajam satu dengan yang lain.
EQ (Emotional Quotient)
Disekitar tahun 90an, Emotional Quotient mulai dicetuskan oleh Daniel Goleman, melalui bukunya Emotional Intelligence. Melalui tulisannya, beliau mendefinisi ulang arti kecerdasan.
Mengapa EQ penting dalam kepemimpinan? Pemimpin yang mengenal dirinya, memiliki kepekaan sosial, mau ber-empati terhadap orang lain, akan membangun relasi yang baik dengan tim-nya.
Melalui EQ ini, seorang pemimpin dibekali dengan kemampuan memanusiakan manusia, dan hal ini vital sekali dalam dunia kepemimpinan, seperti dikatakan oleh Dave Ulrich, bahwa kepemimpinan itu adalah tentang relasi.
Ada orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, mampu berinovasi, dapat merancang strategi yang keren untuk memajukan perusahaan, namun tidak dapat mengerti kondisi tim-nya, tak memiliki empati, akan membuat tim-nya menderita, relasi menjadi jelek, lalu mempengaruhi motivasi kerja dari bawahannya.

SQ (Spiritual Quotient)
Hal yang menarik muncul di akhir tahun 90an, dimana ada tokoh, Ian Marshall & Danah Zohar, melalui bukunya Spiritual Capital; yang mengenalkan tentang Spiritual Quotient (SQ), yang mengatakan bahwa kesuksesan seseorang tidak berhenti pada kecerdasan intelektualnya, dan kecerdasan emosinya, melainkan ada lagi kecerdasan spiritual.
Kecerdasan spiritual ini berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam memaknai kehidupan dan hubungannya dengan Sang Hidup.
SQ ini lalu menjadi dasar dari IQ & EQ, sehingga membawa pada pergeseran paradigma, serta motivasi dalam memberikan makna tentang kesuksesan.

Seorang pemimpin tidak cukup memiliki kecerdasan intelektual saja, sehingga dapat menyelesaikan masalah dan memajukan organisasi; dan juga ternyata tidak lagi cukup ketika seseorang mengerti dirinya dan orang lain untuk membangun relasi yang baik dan langgeng dengan timnya, tetapi seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan transenden, dimana dapat mengkaitkan arti dan makna hidupnya, melalui apa yang dikerjakan dan kepemimpinannya.
Dengan memiliki SQ yang tinggi, seorang pemimpin memiliki kegentaran dalam menjalankan kepemimpinannya, sebab pemimpin ini mengerti bahwa posisi yang diberikan kepadanya adalah milik-NYA, dan cara memimpinnya tak lepas dari hati nurani, serta nilai2 agung yang dimilikinya
PQ (Physical Quotient)
Ketika Anda sedang lapar, dan didesak untuk terus melanjutkan meeting stratejik yang penting, apa kira2 yang terjadi terhadap keputusan2 yang akan Anda buat?
Ketika Anda sedang capek dan kelelahan, ternyata ada masalah yang masih harus Anda selesaikan di kantor, kira2 apa yang terjadi dengan keputusan2 yang Anda buat?
Iya, kondisi fisik kita mempengaruhi cara kerja otak kita, dalam berpikir, bertindak, dan dalam membuat keputusan. Tubuh kita ini merupakan ciptaan yang luar biasa, dan ada organ2 tubuh yang tanpa perlu perintah, dia terus berjalan, seperti detak jantung, system pencernaan, dan sirkulasi darah.
Yang menarik adalah tubuh kita dapat memberikan sinyal ketika badan kita sudah capek, over-used, over-stress, dan lain-lain; bahkan ketika terdapat masalah emosional, anggota tubuh-pun mendapat serangan sehingga menjadi sakit, seperti maag akut bagi orang yang over-stress.
Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin, perlu secara bijaksana dalam memberdayakan dan merawat tubuh kita, demi jalanya kepemimpinan kita yang lebih optimal.
Seorang pemimpin memiliki anugerah sekaligus tanggungjawab besar dalam membuat keputusan2 penting yang dapat mempengaruhi organisasi dan segenap sumber daya manusianya, mempengaruhi ekonomi kota sekitarnya, atau bahkan mempengaruhi kehidupan rakyat banyak.
Untuk itu, sangat perlu bagi seorang pemimpin untuk menjaga apa yang masuk dalam mulutnya, menjaga apa yang masuk dalam pikirannya, serta menjaga hatinya, ditambah dengan olah raga rutin untuk meningkatkan kebugaran tubuh.

AQ (Adversity Quotient)
Didalam era yang hyper-competition ini, dimana kompetisi menghantam dari berbagai arah, semakin membutuhkan seorang pemimpin yang kreatif, dan tahan banting.
Lho, kemampuan intelektual untuk merancang strategi sudah dimiliki; kemampuan emosional untuk membangun relasi juga sudah dimiliki; lalu kearifan dalam memaknai kejadian dg Sang Hidup, dan kemampuan mengoptimalkan kebugaran juga sudah, apa masih belum cukup?, tanya seorang teman
Iya, zaman semakin maju, dan semakin kompleks, ternyata masih membutuhkan satu Quotient lagi, yaitu Adversity Quotient (AQ), yang dipopulerkan oleh Paul G.Stoltz, Ph.D, dalam bukunya Adversity Quotient.
Jalan terjal untuk mencapai visi misi membutuhkan ketahanan uji dari seorang pemimpin. Bukahkah juga sudah tertulis, kesengsaraan menghasilkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji; dan tahan uji menghasilkan pengharapan?!
Didalam perjalanan menuju sukses, kita sebagai pemimpin wajib memiliki kecerdasan dalam mengubah masalah menjadi berkat, mengubah hambatan menjadi peluang, dan mengubah tantangan menjadi kesempatan.
AQ mengibaratkan perjalanan kita seperti mendaki gunung menuju puncak, dan sebagai pendaki gunung, perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi badai, dan terus mendaki sampai pada puncak kehidupan.
Kemampuan untuk menghadapi badai kehidupan dan menerjang keluar dari badai itulah yang disebut sebagai Adversity Quotient (AQ).

Perjalanan kepemimpinan itu merupakan perjalanan terjal yang nikmat, serta penuh tantangan dan kesempatan. Apa yang lebih indah dari penyertaan-NYA dalam membimbing kita untuk memimpin dengan arif dan bijaksana.
Kiranya melalui kelima Q ini, kita memiliki bekal baik dan fondasi yang kokoh sebagai pemimpin yang siap berproses untuk menjadi serupa DIA, Amin.
Semangat Berjuang!!!


